Profil

Bahwa pada hakekatnya manusia adalah makhluk yang diciptakan oleh Tuhan dalam keadaan sempurna. Diantara manusia tidak ada yang lebih atau kurang sempurna antara yang satu dengan yang lain. Setiap manusia diciptakan dengan kesempurnaannya masing-masing. Manusia diciptakan sebagai makhluk yang unik, di antara mereka tidak ada satu pun yang menyamai. Setiap manusia diciptakan dengan kondisi, potensi, dan kemampuan yang berbeda antara satu dengan lainnya, karena mereka harus menjalankan tugas hidup yang berbeda pula. Kondisi fisik, mental, intelektual, dan sensorik yang berbeda merupakan instrumen yang dianugerahkan oleh Tuhan untuk menjalankan tugas hidupnya di dunia. Dengan demikian keberagaman latar belakang, kondisi, potensi, dan kemampuan setiap individu manusia harus dihormati.

Bahwa sesungguhnya “cacat” itu tidak ada. “Cacat” itu menjadi ada karena sengaja diadakan oleh sistem kekuasaan dengan membangun konstruksi sosial secara struktural dan kultural dengan cara memberi sebutan “cacat”, memposisikan dan mengkondisikan sebagai orang cacat pada posisi dan kondisi lemah, tak berdaya, tidak berkemampuan dan sejenisnya kepada orang yang dianggap mempunyai kondisi fisik, mental, intelegensi, dan sensorik yang berbeda dari keadan manusia pada umumnya.

Bahwa proses pencacatan tersebut dilakukan oleh mereka yang cara berpikirnya masih terbingkai oleh ideologi normal vs abnormal, mayoritas vs minoritas, kuat vs lemah, umum (general) vs khusus (special) dan semacamnya. Menyebut “cacat” berarti melakukan proses “pencacatan”. Karena itulah sebagai salah satu bentuk dekonstruksi sosial maka disebarluaskan penggunaan istilah difabel yang berasal dari kata diffable yang berarti Differently Able Person, karena pada dasarnya yang ada pada manusia yaitu perbedaan kemampuan dan bukan ketidakmampuan atau kekurangmampuan.

freccia-NEXT