Nilai-Nilai Pendidikan Inklusif yang Diajarkan SD Tumbuh 2 Yogyakarta

Sekolah Tumbuh 2

Pada hari Jumat, 6 Oktober 2017 Dria Manunggal berkesempatan berkunjung dan bersilaturahmi dengan SD Tumbuh 2 Yogyakarta yang beralamatkan di Jalan Prof. Dr. Amri Yahya No.1, Pakuncen, Wirobrajan, Kota Yogyakarta / Komplek Jogja National Museum. Sekolah Tumbuh 2 telah mengimplementasikan nilai-nilai pendidikan inklusi sejak berdirinya 12 tahun yang lalu. Kami berkempatan mewawancarai Admila Rosada, M.Si selaku psikolog dan manajer Pusat Studi Inklusi Sekolah Tumbuh 2, Jamilludin selaku kepala Sekolah Tumbuh 2, dan Eko Wahyu Wibowo, S.Pd selaku guru pendamping/ supporting teacher.

Admila Rosada, menceritakan bahwa Sekolah Tumbuh 2 mengkomunikasikan pendidikan inklusif kepada warga sekolah mengenai model inklusi yang sekolah tumbuh 2 praktekkan, diawali dari visi misi dan tujuan sekolah tumbuh, nilai-nilai yang dihidupi, praktek-praktek pembelajaran yang mencerminkan pendidikan inklusi seperti program-program unggulan yang berkaitan dengan inklusifitas. Sedangkan Jamilludin selaku kepala sekolah menyampaikan mengenai target pendidikan inklusi adalah semua warga sekolah dan tidak menjadikan anak sebagai objek tapi semuanya warga sekolah, guru, orang tua, dan anak ikut berproses.

“Inklusi itu adalah nilai jadi bukan hanya retorika tapi bagaimana penanganannya itu bisa terwujud melalui kegiatan atau aktifitas di kelas. Nilai itu tidak sebatas ceremonial tapi kita harapkan menjadi habit di sekolah ini. Kami bisa belajar dari anak di kelas, anak bisa belajar dari cara orangtua berkomunikasi”, imbuh Jamilludin.

Eko Wahyu Wibowo menyampaikan bahwa media yang digunakan seperti workshop parenting, kegiatan di kelas dengan melibatkan orang tua di akhir semester, teacher development, dan khusus untuk guru baru wajib mengikuti sesi keinklusian agar nilai-nilai sekolah dan keinklusian itu terarah. Selain itu, Sekolah Tumbuh 2 juga menggunakan media brosur, media sosial seperti facebook, website, instagram, paguyuban grup whatsapp orang tua murid, dan forum besar bersama masyarakat luar.

Sekolah Tumbuh 2 mensosialisasikan ke guru dan ke anak-anak bahwa pendidikan untuk semua, tidak ada batasan agama atau bekebutuhan khusus tertentu. Sekat-sekat itu mereka hapus, semua orang bisa belajar bersama di Sekolah Tumbuh 2, tidak membeda-bedakan orang kaya atau orang miskin. “Kita ingin punya komitmen bahwa pendidikan untuk semua sesuai dengan amanat undang-undang, negara berkewajiban untuk memberikan pendidikan untuk semua. Sekolah Tumbuh mencoba hadir mewakili negara meskipun praktek dan tantangannya luar biasa. Dinamikanya ada yang berkembang setiap tahunnya. Bagaimana prioritas itu kita ingin mewujudkan pendidikan untuk semua. Education for all”, terang Jamilludin.

Sekolah Tumbuh 2 menjalankan beberapa kegiatan untuk mengkomunikasikan pendidikan inklusif seperti bersama-sama memaknai hari besar beragam agama, setiap Rabu ada makan siang bersama bawa bekal dari rumah dan duduk bersama saling berbagi. “Mungkin itu makanan budaya keluarga, jadi bisa menganal makanan masing-masing budaya keluarga. Kami ingin mencoba menerapkan bahwa penanaman nilai inklusif tidak sebatas hanya duduk dan belajar antara guru dan anak. Tapi saat anak dengan anak pun kita dorong. Komposisi kelas disini multi usia”, kata Admila.

Dengan adanya beberapa kegiatan yang telah dilakukan oleh Sekolah Tumbuh 2, manfaat dan dampak yang mereka rasakan adalah anak-anak lebih toleransi terhadap teman-temannya yang ada di sekolah dan di sekitarnya. Mereka lebih bisa menghargai orang yang memiliki kebutuhan. Mereka pun sadar dan membantu, tidak membully.

Jamilludin menjelaskan bahwa dari sekian banyak manfaat, tidak menjadi tolak ukur Sekolah Tumbuh 2 menjadi sekolah inklusi atau tidak. “Karna kalau merasa saya sangat inklusif, malah jadinya eksklusif. Kami ingin secara natural mengarahkan anak-anak bahwa tidak disebut inklusi pun kita tetap punya nilai-nilai yang positif sehingga nilai respect dan care menjadi nilai yang tidak perlu disebutkan pun anak paham. Kita harapkan dan kita dorong untuk anak-anak karena kita tau bahwa masa umur jenjang SD itu masa emas untuk dia punya pengalaman menanamkan nilai-nilai positif itu sehingga melihat temannya berbeda maka dia akan aware dan tau bagaiman anak ini punya peran untuk membantu dan mempermudah. Di beberapa kelas itu ada kebiasaan misalnya ada anak cerebral palsy dan temannya menawarkan bantuan untuk ditemani ke toilet. Meskipun kadang anak CP itu tidak perlu dan tidak apa-apa tidak dibantu tapi artinya sudah ada komunikasi. Kuncinya inklusi dan komunikasi itu ya”, jelasnya.

Tidak sedikit pencapaian Sekolah Tumbuh 2 dalam mengajarkan nilai-nilai pendidikan inklusif di sekolahnya. Namun bukan tanpa hambatan. Jamilludin menjelaskan bahwa beberapa hambatan yang dirasakan oleh Sekolah Tumbuh 2 adalah sarana prasana atau aksesibilitas. “Kita ingin menerima anak dengan kondisi tuna netra misalnya, kita tidak punya fasilitas. Sehingga tugas kami ke depan bagaimana kita bisa menerima mereka. Bagaimana menciptakan akses yang ramah. Kami juga mengajak peran serta orang tua untuk menguatkan peran-peran mereka. Karena sekolah inklusi juga tidak lepas dari tindakan bullying dan pernah terjadi. Kami berusaha semaksimal mungkin, selama itu menyentuh fisik dan berakibat fatal, kami beri pengertian siswa tidak boleh melakukan itu. Kita ajak diskusi sehingga kita harap masalah itu selesai. Jadi inklusi ini seperti obat.”

Untuk berkomunikasi dengan siswa yang berkebutuhan khusus, mereka punya cara sendiri untuk berkomunikasi. Terkadang guru harus mengajarnya secara privat dan melalui gambar visual. Tantangan berikutnya adalah upaya mengimplimentasikan nilai-nilai inklusif terhadap sesama orang dewasa tidak mudah. “Masih ada yang belum bisa menerima perbedaan orang dewasa di sekitarnya. Masih judging dengan orang tua yang punya pola asuh yang berbeda. Komunikasi positif ini ternyata belum cukup terbuka untuk dibangun orang dewasa ke orang dewasa lain. Rekan kerja cara kerja yang berbeda karena setiap kita kan punya perbedaan. Kadang kita masih menyamakan dengan kita, mungkin dia punya pola atau latar belakang masalah yang berbeda di rumah mungkin dia single parent. Jadi keterbukaan antar orang dewasa ini yang masih perlu pelatihan lagi. Kalau dengan anak itu sudah selesai tapi yang di dewasa ini belum”, imbuh Admila.

Menurutnya, promosi pendidikan inklusi bukan hanya tanggung jawab sekolah tapi semua warga sekolah. Guru, murid, orang tua, staff, leader, dan yayasan pun  semua punya peran. Sekolah akan mendorong efektivitas paguyuban karena disitu anak dan orang tua bisa berkegiatan bersama. Setiap semester sekolah adakan kegiatan parent’s passion. Pada kegiatan ini orang tua diberi waktu untuk mengajar. Kegiatan ini dirasa cukup efektif saat ada orang tua menemukan kesulitan mengajar anak dengan kebutuhan khusus, pihak sekolah kemudian ajak diskusi tentang keinklusian. Pada akhirnya orang tua jadi punya empati dan paham bahwa guru bukan malaikat serta perlu dukungan dan peran dari orang tua. Anak pun menjadi semakin dekat dengan orang tua.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *