Kegiatan Asesmen Aksesibilitas RSA UGM

menuju RSA UGM

Sabtu, 30 September 2017, Dria Manunggal bersama Pusat Studi Transportasi dan Logistik Universitas Gadjah Mada (Pustral UGM) mengadakan uji aksesibilitas difabel di Rumah Sakit Akademik (RSA) UGM. Diikuti oleh 12 difabel dari perwakilan pengguna kursi roda, pengguna kruk / tongkat, Tuli, dan difabel netra serta arsitek dari Pustral UGM. Dimulai pukul 09.00 tim asesmen mulai bergerak mencoba semua bagian RSA UGM termasuk menuju lobby. Tim A memulai dari halte transjogja terdekat, tim B memulai dari parkiran, tim C mencoba langsung turun ke lobby dengan menggunakan taksi / transportasi online.

Selama kurang lebih 4 jam menuntaskan asesmen di semua poli, tim kembali berkumpul menjadi kelompok besar dan mendiskusikan bersama hasil asesmen. Kendala yang dihadapi pengguna kursi roda adalah halte bis yang tidak bisa digunakan, tidak ada trotoar menuju RSA UGM sehingga membahayakan keselamatan, gerbang masuk yang menanjak sehingga membutuhkan bantuan orang lain agar dapat mencapai lobby, dan toilet difabel yang sempit sehingga kursi roda tidak dapat mengakses toilet dengan nyaman, juga karena letak wastafel yang lebih tinggi dari tinggi kursi roda.

asesmen

Sedangkan dari difabel netra juga menyampaikan kesulitannya mengakses RSA UGM dari halte karena alasan yang sama, yakni halte tidak bisa digunakan dan tidak ada trotoar sehingga membahayakan keselamatan. Saat memasuki poli, difabel low vision kesulitan mengakses lorong karena pencahayaan yang gelap dan tidak ada denah taktil yang dapat menggambarkan peletakkan ruangan di masing-masing poli. Saat menggunakan lift, difabel netra pun merasa kesulitan karena tidak ada informasi audio yang menjelaskan bahwa pintu terbuka atau menutup, dan informasi sedang ada di lantai berapa. Hanya ada satu lift baru di bagian utara yang sudah ada informasi audio, namun sumber tidak menjelaskan poli apa saja yang ada di sebuah lantai dan sumber suara menggunakan Bahasa Inggris dengan logat Korea sehingga kurang jelas. Akses krusial berikutnya adalah guiding block. Sejak pintu masuk hingga bagian dalam bangunan RSA UGM tidak ditemukan guing block sama sekali sehingga menyulitkan difabel netra mengakses layanan RSA UGM secara mandiri.

Kemudian difabel pengguna kruk atau tongkat mengalami hambatan saat memasuki lobby karena jarak halte ke RSA UGM jauh sehingga menghabiskan tenaga pejalan kaki pengguna kruk. Terlebih jika pasien adalah penggua kruk maka tidak mungkin dapat mengakses secara mandiri. Saat memasuki pintu masuk RSA UGM, sudah ada satpam yang bertugas sehingga dapat membantu pengunjung memasuki lobby RSA UGM. Hambatan lainnya adalah jika pasien atau pengunjung adalah difabel pengguna kruk yang mengendarai kendaraannya sendiri, tidak ada parkiran khusus difabel yang mudah dijangkau di area lobby dan tidak ada petugas yang siap memarkirkan kendaraannya. Namun pihak RSA UGM sudah menyiapkan beberapa kursi roda sehingga pasien atau pengunjung yang membutuhkannya dapat segera terakomodir kebutuhannya.

penyerahan kamus bahasa isyarat

Hambatan dari Tuli adalah tidak ada informasi visual nomor antri masuk ruang dokter. Beberapa poli sudah tersedia TV yang menayangkan urutan nomor antri namun tulisan yang tertera sangat kecil dan tidak selalu menayangkan nomor urut, terkadang TV digunakan untuk menayangkan tayangan televisi atau pun video. Dan karena TV tersebut tidak dapat dilihat dari semua sudut ruang tunggu. Bagi difabel Tuli, hambatan krusial bukan pada aksesibilitas fisik, melainkan aksesibilitas non fisik seperti berkomunikasi dengan petugas maupun dokter. Karena jika terjadi kesalahpahaman komunikasi, dapat memunculkan kemungkinan kesalahan fatal bai diagnosa yang salah atau pemberian obat yang tidak sesuai. Sehingga dalam forum ini perwakilan Tuli sekaligus menyumbangkan sebuah kamus bahasa isyarat Indonesia kepada pihak RSA UGM agar ke depannya pelayanan di RSA UGM dapat diakses secara baik oleh semua orang, termasuk Tuli. Tuli juga merekomendasikan disediakannya alat komunikasi seperti tablet atau HP yang dapat menghubungkan Tuli kepada jurubahasa isyarat melalui panggilan video.

Menanggapi masukan dari tim difabel, Drs. Setia Adi Purwanta, M.Pd selaku direktur Dria Manungal mengingatkan bahwa re-desain RSA UGM ini nantinya harus tetap berpedoman pada Permen PU No.30Tahun 2006 dengan memperhatikan prinsip keamanan, kenyamanan, kemandirian, keselamatan, dan kemudahan. Menambahkan usulan kepada pihak RSA UGM, pihaknya juga perlu memperhatikan tempat wudhu bagi difabel, yakni diberikan tempat duduk di depan kran air wudhu sehingga difabel yang akan berwudu tidak kesulitan untuk menjalankan ibadah. Selain itu, jalur evakuasi bencana maupun gas pemadam kebakaran juga perlu diperhatikan, misalnya gas pemadam kebakaran tingginya tidak lebih dari 120 cm. Kemudian pihak RSA UGM menyampaikan bahwa hidrant maupun alarm tanda terjadi bencana rutin diuji coba setiap 3 bulan sekali untuk memastikan bahwa alat-alat tersebut berfungsi normal.

Dr. Ir. Arif Wismadi, M.Sc perwakilan Pustral UGM menyampaikan bahwa dari hasil asesmen ini harus segera dievaluasi dengan mengkategorikan yang harus dikerjakan dalam waktu dekat, menengah, dan panjang. Dilihat dari hasil asesmen yang dikemukaan di forum ini, terlihat bahwa proses menuju / proses yang paling jauh adalah proses yang besar dan semakin akses pada pelayanan yang lebih detail. Sebagai contoh dari halte bis kesulitannya sangat besar namun setelah memasuki ruangan-ruangan, hambatan menurun. Diperlukan komitmen dari manajemen rumah sakit untuk menyelesaikan persoalan-persoalan tersebut dan dari hasil asesmen ini RSA UGM dapat membuat rekomendasi kepada pemerintah.

Ketua tim penelitia asesmen ini yakni Prof. Dr. Sunartini Hapsara, Sp.A(K), Ph.D menyampaikan bahwa proses pembangunan RSA UGM memang belum sepenuhnya sempurna karena bergantung pada dana APBN dan ada dua bangunan yang hingga kini mangkrak pembangunannya. Prof Nartini merasakan sendiri banyak hambatan yang ditemui dalam mengakses RSA UGM karena dirinya pun seorang difabel pengguna kursi roda. Hambatan lainnya adalah karena pihak kontraktor yang mengerjakan proses pembangunan tidak sesuai dengan perencanaan dari arsitek yang bertugas karena pada proses pelaksanaannya kurang pengawasan. Kemudian di bagian meja pendaftaran masing-masing poli memang belum aksesibel bagi pengguna kursi roda karena masih terlalu tinggi. Hanya ada satu meja pendaftaran yang desainnya tinggi, sedang, kemudian rendah sehingga dapat diakses oleh siapa pun. Harapan ke depannya meja pendaftaran yang terletak di poli Gatotkaca 4 ini daapat dicontoh di meja pendaftaran maisng-masing poli. Untuk informasi visual nomor antrian bagi Tuli, pihak RSA UGM meminta maaf kepada Tuli karena pernah terjadi di RSA UGM seorang Tuli menunggu di ruang tunggu dari siang hingga sore karena dirinya tidak tahu urutan antrian dan nomor urutnya terlewat. Sehingga memang sangat perlu diterapak nomor antrian dalam bentuk running teks yang tidak hanya untuk Tuli namun semua pengunjung pun bisa terbantu. Pihaknya juga akan menyiapkan petugas yang minimal dapat berkomunikasi dengan Tuli dengan bahasa isyarat sederhana agar pelayanan di RSA UGM pun dapat optimal.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *