Etika Berinteraksi dengan Difabel

LBH Jogja

Jum’at, 29 September 2017 Dria Manunggal yang diwakili oleh Ninik memfasilitasi Sekolah Paralegal LBH (Lembaga Bantuan Hukum) Jogja untuk materia Etika Berinteraksi dengan Difabel. Berdurasi 1 jam 30 menik, kegiatan dimulai dengan pengenalan menggunakan alfabet bahasa isyarat agar peserta tidak mengantuk dan semangat menjalani sesi ini. setelah masing-masing peserta memperkenalkan diri menggunakan bahasa isyarat, Ninik menjelaskan mengenai ragam difabilitas dan penyebabnya. “Yang perlu dipahami bahwa semua orang berpotensi menjadi difabel, baik difabel permanen maupun temporer”, ungkap Ninik.

Kemudian pada sesi kedua, peserta diajak simulasi menjadi difabel. Ada yang menutup mata seperti difabel netra, difabel daksa pengguna kursi roda, dan tidak bisa bicara. Setelah simulasi sederhana, peserta kemudian dibagi menjadi 3 tim dan mensimulasikan jika terjadi gempa. Melihat antusias peserta, ada yang langsung menarik tangan temannya yang difabel netra dan ada pula yang tiba-tiba menggendong temannya yang netra. “Saya tadi panik karena pura-puranya ada gempa, kasihan kalau difabel netra tidak bisa lari jadi langsung saya gendong,” ungkap salah seorang peserta.

Peserta lain yang menjadi difabel netra pun menyampaikan pengalamannya yang kebingungan dengan situasi yang terjadi. Situasi yang tenang tiba-tiba berubah menjadi ramai. “Kaget sekali saya karena tiba-tiba terdengar suara berteriak dan orang berlarian. Lebih kaget lagi saat tiba-tiba ada yang menggendong saya”, cerita peserta yang menjadi difabel netra.

Dari simulasi inilah peserta menjadi paham bahwa jika hendak memberikan pertolongan kepada difabel, seyogyanya meminta izin terlebih dahulu dan jika difabel netra, hendaknya jelaskan situasi yang ada di sekitarnya. Etik berinterkasi dengan Tuli adalah mengikuti cara lawan bicara berkomunikasi dengan menanyakan bagaimana caranya berkomunikasi, apakah menggunakan bahasa isyarat, tertulis, atau membaca gerak bibir. Jika terdapat jurubahasa isyarat, jangan berfokus pada jurubahasa isyaratnya namun memandang Tuli sebagai lawan bicara serta menggunakan bahasa yang mudah dipahami atau sederhana dengan tetap bagian muka bisa dilihat oleh lawan bicara Tuli karena Tuli perlu melihat ekspresi lawan bicaranya.

Saat berinterkasi dengan difabel grahita maka hendaknya menggunakan bahasa yang sederhana serta memberikan waktu lawan bicara untuk bercerita. kemudian etika berinteraksi dengan difabel daksa adalah tidak langsung menolong mereka yang menggunakan kruk, tongkat, atau kursi roda karena tidak semua difabel memerlukan bantuan. Hendaknya bertanya dulu apakah perlu dibantu atau tidak dan tidak memindahkan langsung alat bantunya tanpa sepengetahuan si pemilik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *