Asesmen dan Uji Coba Fasilitas Umum di Polres Sleman Yogyakarta

Asesmen Polres Sleman 2Kepolisian Resor (Polres) Sleman Yogyakarta mengundang Komite Disabilitas Yogyakarta dan Dria Manunggal pada Senin, 4 September 2017 untuk meminta masukan atau asesmen dan uji coba fasilitas umum di Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Polres Sleman. Asesmen atau uji coba ini bertujuan untuk mendapatkan masukan terkait layanan yang aksesibel bagi difabel sesuai dengan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum (Permen PU) No.30 Tahun 2006. Bersama dengan seorang difabel netra, seorang Tuli, dan seorang pengguna kursi roda, tim asesmen menjajal ramp atau bidang miring di pintu masuk SKPT, handrail / pegangan rambatan, area parkir, dan toilet.

Menurut hasil uji coba yang dilakukan oleh Sigit sebagai difabel netra, bentuk aksesibilitas di SKPT Polres Sleman belum sempurna karena belum ada guiding block / lantai pemandu, ramp yang dibangun masih curam, anak tangga kurang lebar jarak antar langkahnya masih tinggi, serta toilet yang disediakan masih sempit. Menurut Peraturan Mentri No.30 tahun 2006, saklar toilet maksimal setinggi 120 cm namun dari hasil asesmen, saklar di toilet masih setinggi 150 cm

Kemudian asesor perwakilan dari Tuli yakni Wahyu Triwibowo atau Ayut, menilai bahwa informasi tertulis lokasi parkir untuk motor dan mobil belum tersedia, papan nama ruangan SPKT, nama gedung, dan nama-nama ruangan yang ada di Polres Sleman.  Ayut juga menyarankan SPKT menyediakan bagan prosedur pelaporan SPKT, pembuatan SIM, maupun layanan lainnya agar dapat memberikan informasi secara visual kepada pengunjung, khususnya Tuli. Saat meninjau lokasi toilet pun Ayut tidak melihat ada logo yang menandakan toilet difabel. Kemudian Ayut menanyakan bagaimana cara melayani pengunjung Tuli yang datang ke SPKT, pihak SPKT merespon bahwa menggunakan media tertulis untuk berkomunikasi karena belum ada yang dapat menggunakan atau memahami bahasa isyarat. merespon hal tersebut, Ayut merespon pihak kepolisian untuk berkomunikasi menggunakan bahasa yang sederhana karena tidak semua Tuli memahami struktur Bahasa Indonesia maupun bahasa isyarat.

Tim asesor juga ada seorang perwakilan pengguna kursi roda, yakni Ida Ayu. Menurut Ida, ramp yang dibangun SPKT masih curam sehingga membutuhkan bantuan orang lain untuk mengaksesnya. Meskipun sudah cukup akses tim asesor berharap agar SPKT memberikan hand rail atau pegangan rambatan di sisi kiri atau yang menempel di tembok agar lebih aksesibel baik bagi tuna netra, pengguna kursi, maupun pengguna kruk. Meskipun pintu masuk ruang SPKT dapat dilalui, namun ukurannya belum sesuai dengan Permen PU No.30 tahun 2006 serta belum ada space / ruang bebas dengan lantai datar setelah ramp sebelum memasuki ruangan sehingga saat melakukan asesmen, penggua kursi roda dan tuna netra masih mengalami kesulitan.

Terkait toilet yang ada di SPKT, pengguna kursi roda masih kesulitan untuk mengaksesnya karena kursi roda dapat memasuki toilet namun tidak dapat berputar karena ruangan tersebut sempit. Meskipun demikian, toilet yang dibangun sudah memberikan hand rail / pegangan di atas kloset.

Kegiatan ini diinisiasi oleh Polres Sleman guna mendapatkan masukan dari difabel dan meningkatkan layanan yang aksesibel untuk semua serta pihaknya berencana untuk memperbaiki sarana prasarana yang sudah diuji coba sebelum diresmikan.

Asesmen Polres Sleman

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *