Pameran Re-desain Arsitektur Aksesibilitas Peribadatan

Pameran di Pustral 1Pameran di Pustral 2Pameran di Pustral 3Pameran di Pustral 4Pameran di Pustral 5penutupan diskusi

Meskipun sudah banyak peraturan perundangan dari tingkat nasional hingga daerah yang mengatur penyelenggaraan kewajiban negara dalam menghormati, melindungi, dan memenuhi hak asasi difabel yang telah ditrbitkan, di antaranya Undang-Undang Nomor 19 tahun 2011 tentang Ratifikasi Konvensi Internasional Hak Penyandang Disabilitas, Undang-undang Nomor 8 tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas, Peraturan Daerah DIY Nomor 4 Tahun 2012 tentang Perlindungan dan Pemenuhan Hak Penyandang Disabilitas berikut segala Peraturan Gubernur yang mengatur lebih lanjut pelaksanaannya, dan masih banyak lagi peraturan perundangan umum di berbagai sektor yang juga mengatur perwujudan penghormatan, perlindungan, dan pemenuhan hak difabel di sektor-sektor terkait, antara lain undang-undang tentang pendidikan, kesehatan, ketenagakerjaan, aksesibilitas fasilitas umum, dan masih banyak lagi yang lain, namun tidak diimplementasikan sebagaimana mestinya. Sebagai akibatnya perwujudan penghormatan, perlindungan, dan pemenuhan hak difabel dalam segala kehidupannya pun masih jauh dari yang diharapkan. Jangankan mengenai hak difabel yang terkait kehidupan sosial dengan sesamanya, dalam hal berkomunikasi dengan Tuhan di rumah Tuhannya pun penghormatan, perlindungan, dan pemenuhan hak difabel oleh negara masih jauh dari semestinya. Difabel masih mengalami kendala untuk dapat mengakses peribadatan di tempat ibadahnya masing-masing yang diakibatkan oleh belum aksesibelnya tempat ibadah dan materi peribadatan, maupun proses peribadatannya.

Berangkat dari fakta tersebut, maka perlu merangkul berbagai pihak untuk mendorong pemenuhan hak aksesibilitas peribadatan ini, salah satunya adalah para praktisi arsitektur dan pemerhati permasalahan aksesibilitas. Oleh karena itu, Dria Manunggal sebagai sebuah lembaga kajian tentang difabilitas untuk transformasi sosial yang berkedudukan di Yogyakarta bekerjasama dengan Pusat Studi Transportasi dan Logistik (PUSTRAL) UGM dan Jurusan Arsitektur Universitas Islam Indonesia (UII) mengadakan Lomba dan Pameran Re-desain Arsitektur Aksesibilitas Peribadatan.

Adapun tujuan kegiatan ini adalah untuk mengembangkan kepedulian civitas akademika arsitektur untuk turt mendorong terpenuhinya hak aksesibilitas peribadatan bagi difabel, mensosialisasikan kepada masyarakat luas tentang pentingnya pemenuhan hak aksesibilitas peribadatan, dan mendapatkan desain peribadatan yang aksesibel untuk menjadi masukan bagi para pemangku kebijakan baik di tingkat lokal maupun nasional.

Re-Desain rumah ibadah yang dipamerkan selama 4 hari di PUSTRAL UGM terdiri dari 12 peserta yang mengikuti lomba re-desain tempat peribadatan yang akses untuk semua. Kemudian tim juri telah memutuskan beberapa juara kategori dan satu juara umum.

  1. Juara Umum : Peserta no.11, nama peserta Wijanarko, Doni Sastra, Yoka Prima, dengan jenis karya Masjid Baitul Firdaus.
  2. Juara Kategori Media Advokasi : Peserta nomor 12, nama peserta Zuhry Abdi Rahmani dengan jenis karya Masjid Darussalam.
  3. Honourable Mention Masjid : Peserta nomor 6, nama peserta Mumtaz Farohi dengan jenis karya Masjid Al Mahmudah.
  4. Honourable Mention Gereja : Peserta nomor 7, nama peserta Oky Ragi Nugroho dengan jenis karya Gereja St. Theresia Sedayu.
  5. Honourable Mention Pura : Peserta nomor 5, nama peserta Gustian Hafidh Mahendra dan Kadek Sri Kermawaty, dengan jenis karya Pura Eka Dharma.
  6. Honourable Mention Klenteng : Peserta nomor 2, nama peserta Bagaskara Irawan dan Yani, dengan jenis karya Klenteng Poncowinatan.
  7. Juara Favorit : Peserta nomor 9, nama peserta Vicky Ellisa dan Annisa Nastiti, dengan jenis karya Masjid Al Mustaqim.

Redesain 1Redesain 2Redesain 3Redesain 4Redesain 6Redesain 7Redesain 8Redesain 9Redesain 10Redesain 11Redesain 12

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *