Diskusi Lintas Iman : Penguatan Rumah Ibadah sebagai Agen Pengembangan Peradaban Kemanusiaan

Diskusi Lintas Iman di Edu Hostel 2

Berangkat dari persoalan masih kuatnya diskriminasi yang dihadapi oleh para difabel dari latar belakang agama atau kepercayaan yang beragam dalam menjalankan peribadatannya, maka masih patutlah dipertanyakan sejauh manakah rumah ibadah difungsikan sebagai agen pengembangan peradaban kemanusiaan. Padahal membetnuk manusia yang beradab merupakan tugas pokok yang dimuat dalam materi ajaran agama atau kepercayaan apapun. Jangankan menghargai martabat sesama manusia yang berasal dari berbagai ragam latar belakang religius, menghargai martabat manusia yang berasal dari sesama agama atau kepercayaan namun dalam kondisi difabel pun masih jauh dari yang diharapkan. Di samping kondisi fisik bangunannya yang tidak ramah difabel, pelaksanaan kegiatan peribadatan pun belum berpespektif difabel.

Diskusi lintas iman yang dilaksanakan di Edu Hostel Yogyakarta ini dipandu oleh Winarta Hadiwiyono, S.Sos, S.H dari Independent Legal Aid Institure (ILAI) Yogyakarta dan 3 orang narasumber yakni KH. Abdul Manan Ghani dari PBNU, Pendeta Palti H. Panjaitan mewakili Sobat KBB / Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan, serta Bp. Bambang Sukemi dari Bagian Kesra Kabupaten Gunungkidul. Kegiatan ini dihadiri oleh berbagai kalangan, diantaranya pejabat dari instansi terkait, tokoh/pemuka lintas iman, akademisi, pemuda lintas iman, difabel lintas iman, organisasi difabel, dan media masa.

Terselenggaranya diskusi lintas iman ini bertujuan agar muncul strategi penempatan program pengembangan peradaban kemanusiaan dalam rangkaian program optimalisasi fungsi rumah ibadah, identifikasi kegiatan yang dapat disusun menjadi program perwujudan rumah ibadah sebagai agen pengembangan peradaban kemanusiaan, serta terwujudnya rumah ibadah yang di samping memperhatikan nilai religius, juga memperhatikan pemenuhan norma hukum dan nilai etika sosial.

Diskusi diakhiri dengan penandatangan Surat Pernyataan Bersama para wakil lintas iman dan pemerintah yang berisi kesediaan berpartisipasi dalam mewujudkan rumah ibadah sebagai agen pengembangan peradaban kemanusiaan, dan membangun rumah ibadah yang memperhatikan nilai religius, norma hukum, dan nilai etika sosial.

Adapun isi Surat Pernyataan Bersama sebagai berikut :

Yang bertanda tangan di bawah ini:

  1. Nama : Drs. Setia Adi Purwanta, M.Pd.

Lembaga/instansi : Dria Manunggal

  1. Nama : KH Abdul Manan Ghani

Lembaga/instansi : PBNU

  1. Nama : Bambang Sukemi

Lembaga/instansi : Kabag Kesra Kabupaten Gunung Kidul DIY

  1. Nama : Pendeta Palti H. Panjaitan

Lembaga/instansi : Sobat Kebebasan Beragama dan Berkepercayaan

  1. Nama : Drs. Ida Bagus Agung , M.T.

Lembaga/instansi : Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) DIY

  1. Nama : Totok Tejomano, S. Ag, M. Hum.

Lembaga/Instansi : Ketua Vihara Budha Karangjati

Dengan ini bersama-sama menyatakan akan berperan aktif dalam:

  1. Mewujudkan rumah ibadah sebagai agen pengembangan peradaban kemanusiaan;
  2. Membangun rumah ibadah yang memperhatikan nilai religius, norma hukum dan nilai etika sosial

Diskusi Lintas Iman di Edu Hostel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *