Menanti Tempat Ibadah Aksesibel

 

masjid-3

Harus diakui bahwa sampai saat ini, temat ibadah masih menjadi momok tersendiri bagi difabel. Hal ini dikarenakan sebagian besar tempat ibadah yang ada masih kurang aksesibel. Kondisi seperti ini tentunya akan menyulitkan para difabel, khususnya difabel daksa. Padahal para difabel juga mempunyai kewajiban untuk beribadah. Namun, dengan kondisi demikian ini pasti akan membuat para difabel untuk enggan pergi ke tempat ibadah, dengan alasan kondisi tempat ibadah yang menyulitkan.

Sebagai gambaran bahwa tempat ibadah yang banyak ditemui yaitu, banyak terdapat tangga tanpa ada pegangan dan juga dilengkapi dengan rampa (bidang miring untuk jalur kursi roda). Kemudian dilihat dari lantai yang digunakan adalah jenis keramik yang sangat licin tanpa dilengkapi dengan sejenis karpet atau bahan lain. Memang dari segi estetika tempat ibadah yang ada sekarang ini sangat baik, tampak megah dan mewah, tetapi menyulitkan difabel untuk memasukinya.

Bahkan ada lagi fenomena baru yaitu tempat ibadah dibangun di lantai atas, sementara di lantai dasar untuk perkantoran atau pertokoan. Kondisi demikian ini jelas membuat difabel khususnya pemakai kursi roda, tidak mampu. Kondisi demikian jelas membuat difabel khususnya pemakai kursi roda, tidak mampu menggunakan tempat ibadah seperti ini.

Sebenarnya bukan hanya tempat ibadah yang harus aksesibel tetapi sarana tempat ibadah juga harus diperhitungan aksesibilitasnya, misalnya kamar mandi yang tersedia. Bukan sebaliknya malah menjadikan kamar mandi lebih menyulitkan difabel, karena ada sebagian kamar mandi tempat ibadah yang di depannya dibangun seperti kolam. Meskipun kolam tersebut tidak salah karena fungsinya hanya untuk membasuh kaki, tetapi bagi penyandang difabel bukan hanya menyulitkan bahkan bisa membahayakan.

Landasan hukum aksesibilitas.

Sebenarnya apabila mengacu pada aturan yang ada, yaitu peraturan menteri pekerjaan umum nomor 30/ PRT/M/2006 tentang Pedoman Teknis Fasilitas dan Aksesibitas Bangunan, Gedung dan Lingkungan sudah secara jelas mengatur agar setiap bangunan gedung dan lingkungan harus dibuat aksesibel. Bahkan belakangan ini sejumlah daerah seperti Daerah Istimewa Yogyakarta, sudah mempunya Peraturan Daerah (Perda) khusus tentang difabel. Perda tersebut mengatur lebih lanjut tentang berbagai permasalahan difabel. Salah satunya aksesibiltas berbagai fasilitas tempat umum.

Dan perlu diketahui bahwa sebenarnya aksesibilitas bukan hanya dapat dinikmati oleh penyandang difabel, tetapi dapat dinikmati kelompok lain, yaitu kaum Manusia Usia Lanjut (Manula). Sebagai salah satu contoh apabila sebuah tangga dilengkapi dengan pegangan atau lantai dibuat tidak terlalu licin, maka kaum manula juga tidak kesulitan untuk mengaksesnya, bahkan juga tidak membahayakan keselamatannya.

Harapan pada pengurus tempat ibadah

Berdasar pada uraian tersebut di atas maka, sudah saatnya para pengurus tempat ibadah untuk memikirkan difabel beribadah, yaitu dengan membuat atau menjadikan tempat ibadah yang aksesibel. Apabila hal ini sudah dilakukan maka tempat ibadah yang selama ini masih menjadi momok bagi difabel, akan segera berubah menjadi tempat yang dinanti atau dituju para difabel untuk memenuhi panggilan sang pencipta.

Namun, sayangnya keberadaan tempat ibadah yang aksesibel masih sangat terbatas. Salah satu tempat ibadah yang sudah aksesibel tersebut adalah masjid yang ada di kompleks Pemerintah Daerah Kabupaten Sleman. Masjid tersebut sudah dilengkapi dengan rampa sesuai dengan standart yang ada. Rampa terdapat di pintu utama masjid, juga di area kamar mandi atau tempat wudhu, sehingga di masjid ini difabel termasuk pemakai kursi roda tidak akan kesulitan apabila mau beribadah di tempat ini.

Kemudian contoh lainnya adalah Gereja Santo Paulus, sebuah gereja yang berlokasi di Klodran, Kabupaten Bantul. Di sisi samping gereja ini juga sudah dilengkapi sebuah rampa yang sudah sangat landai. Meskipun rampa ini dibangun di samping gedung jadi bukan di pintu utama gereja, tetapi paling tidak dapat memberikan kemudahan bagi difabel yang akan beribadah.

Tentunya apabila mulai sekarang semua pengurus tempat ibadah sudah mempunyai pemikiran untuk memberikan kemudahan bagi difabel, maka tidak ada salahnya jika tempat ibadah dibuat aksesibel. Bukankah salah satu tanggung jawab pengurus tempat ibadah adalah memakmurkan, yaitu mengajak sebanyak mungkin orang untuk beribadah. (D. Windarta)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *