Uji Keterbacaan Peta Taktual

IMG-20160813-WA0003

Sejak tahun 2009 Dria Manunggal bekerjasama dengan BIG (Badan Informasi Geospasial) untuk pembuatan Atlas Taktual Nasional Indonesia, yaitu atlas yang diperuntukan bagi Difabel Netra. Dimana simbol-simbol yang digunakan dalam atlas tersebut sudah distandarisasi dalam Standar Nasional Indonesia, hingga tahun 2015 Dria manunggal sudah membuat 5 tema yaitu wilayah administrasi, transportasi darat, transportasi udara & laut, sumber daya alam abiotik, dan peninggalan sejarah.

Bertempat di Balai Rehabilitasi Sosial Disabilitas Netra (BRSDN), Pandawa, Kudus BIG dan Dria Manunggal melakukan uji keterbacaan peta taktual. Kegiatan ini berlangsung selama tiga hari dari Selasa-Kamis (9-12/8) lalu. Adapun rangkaian kegiatan pada hari pertama adalah rahmah tamah, hari kedua perkenalan peta taktual, dan hari terakhir adalah evaluasi bersama tentang peta taktual. Peserta uji keterbacaan peta taktual Indonesia adalah penghuni BRSDN dengan rentang usia 15-45 tahun.

Setya Adi Purwanta, selaku direktur utama Dria Manunggal secara langsung memfasilitasi uji keterbacaan peta. Antusias peserta pun tinggi dalam mengikuti kegiatan mengenal simbol peta dan mengenal pulau-pulau Indonesia. “Ternyata Pulau Sumatera itu seperti singkong,” celetuk salah satu peserta.

Pada hari terakhir, peserta uji keterbacaan peta ini menyampaikan beberapa masukan untuk kesesuaian peta. Adapun usulan mengenai simbol ibukota kabupaten, batas pantai dan darat, serta kesamaan posisi media antara peta dan keterangannya harus dalam posisi sama. “Jika peta tercetak horisontal maka keterangan peta juga horisontal,” usul peserta.

Selain uji keterbacaan peta, BIG memberikan secara simbolis peta taktual Indonesia kepada pihal BRSDN. “Semua usulan dari hasil uji keterbacaan ini akan kami sampaiakan kepada BIG untuk dilakukan perubahan,” pungkas Setya Adi Purwanta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *