Dinas Kebudayaan Apresiasi Ide Aksesibilitas Peribadatan Kelompok Aliran kepercayaan

 

Kelompok aliran kepercayaan yang13872944_1225652960801778_5912787737451972562_n tergabung dalam kelompok lintas iman dan beragama pagi tadi audiensi dengan Wakil Kepala Dinas Kebudayaan, Yogyakarta (10/8). Mereka menyampaikan aspirisari terkait aksesibilitas difabel dalam peribadatan untuk mendapat dukungan kebijakan dari Dinas Kebudayaan.

Audiensi berlangsung di ruang rapat Kepala Dinas Kebudayaan Yogyakarta dihadiri oleh tim difabel di Mata Tuhan Dria Manunggal, kelompok lintas iman dan beragama (Islam, Kristen, Hindu, Budha, Katholik, dan aliran kepercayaan). Audiensi ini disambut baik oleh Singgih Raharjo selaku Wakil Dinas Kebudayaan, karena Kepala dinas sedang ada kepentingan dinas bersama Gubernur dan didampingi Setiawan Sahli selaku Kepala Seksi Seni Adat Tradisional.

Bugiswanto, Selaku Ketua Majelis Luhur Aliran kepercayaan mengutarakan maksud audensi, “Kami sebagai kelompok penghaya yang keberadaannya berada di bawah koordinasi Dinas Kebudayaan bermaksud menginginkan dorongan dan kerjasama dalam perwujudan aksesibilitas peribadatan ini.”

“Aksesibilitas ini seperti pembangunan toilet, jalan, dan tempat peribadatan termasuk sarana prasarana dalam mengakses kesenian dan budaya agar dapat ramah terhadap difabel. Mungkin dari Dinas Kebudayaan bisa memberikan action dan bentuk-bentuk kebijakan untuk mendorong program difabel di Mata Tuhan ini. Karena secara pelaksanaan, aliran kepercayaan ini di bawah koordinasi Dinas Kebudayaan,” ujarnya.

Menurut Setiawan Sahli, Fasilitas yang berkaitan dengan peribadatan bukan menjadi ranah Dinas Kebudayaan dan lebih sesuai dengan Kemenag di biro kesra, namun jika memfasilitasi kebudayaan kami dapat memfasilitasi pembangunan fisik dan sarana prasarana meskipun hanya 1 kali setahun. Dan syaratnya agak susah. Syarat tanah harus jelas dan tidak mengontrak, dan seperti gamelan juga bisa dibantu dalam pengadaannya asal yang menerima memenuhi persyaratan,” tuturnya.

Mendengar penjelasan tersebut, Ninik selaku Pelaksana Program Difabel di Mata Tuhan mengharap Dinas Kebudayaan dapat memberikan dorongan berupa kebijakan dalam bentuk himbauan jika ada gelaran kegiatan kesenian baik yang berhubungan dengan ritual penghayat, bahwa perlu adanya aksesibilitas bagi penikmat seni dan budaya. Ninik menjelaskan bahwa difabel rungu wicara, “Keluhan dari difabel rungu tidak bisa mengikuti proses peribadatan atau pun menikmati proses keseniaan dan kebudayaan. Itu sangat indah kalau setiap gelaran ada translater bagi difabel rungu dan buku-buku braile.”

Singgih menyambut baik usulan Ninik, “idealnya seperti itu, tetapi kita belum sampai kesana, karena itu adalah hak, di satu sisi kompleksitas suatu pegelaran komplek, orang yang bisa transalater harus banyak dan ini ide bagus, akan kita pikirkan bersama, tetapi kita belum sampai ke sana dan mungkin bertahap misalnya event-event tertentu, untuk agama (tetap koordinasi) ke kemenag, fisik biro kesra, yang bersifat budaya (bisa) di Dinas Kebudayaan,” di akhir sesi audiensi tersebut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *