DRIA MANUNGGAL LAUNCHING WEBSITE

Tampilan website dria manunggal

Dria Manunggal, sebuah lembaga kajian dan penelitian tentang difabilitas untuk transformasi sosial, sejak bulan Oktober 2015 menyelenggarakan Program Difabel di Mata Tuhan. Program ini bertujuan mendorong pemenuhan aksesibilitas peribadatan bagi difabel dengan merangkul komunitas pemuda dan difabel dari lintas agama dan kepercayaan.

Program ini berangkat dari fakta masih banyaknya diskriminasi terhadap difabel dalam kehidupan beragama dan berkeyakinan. Rumah ibadah yang tidak aksesibel untuk mereka yang mempunyai hambatan mobilitas, aksesibilitas memahami isi kitab suci dan kutbah penyampaian ajaran dari para pemuka agama/aliran kepercayaan, serta ikut berpartisipasi dalam menyampaikan ajaran oleh mereka yang memiliki hambatan komunikasi, adalah contoh dari sebagian buah pikir dan tindakan diskriminatif dalam kehidupan beragama dan berkeyakinan terhadap para difabel.

Serangkaian kegiatan telah dilakukan, dari diskusi-diskusi untuk membedah hakikat manusia sebagai makhluk Tuhan yang diciptakan dalam keadaan sempurna, kemudian membongkar penyebutan “cacat” yang disinyalir telah mencacatkan seseorang yang sebenarnya lebih berhak disebut “difabel” (differently abled people/orang dengan kemampuan yang berbeda). Dari serangkaian diskusi tersebut selanjutnya juga diidentifikasi permasalahan-permasalahan difabel dalam hal aksesibilitas peribadatan, yang selanjutnya temuan tersebut diformulasikan dalam sebuah petisi yang telah diluncurkan pada bulan Januari yang lalu. Petisi tersebut untuk menyampaikan tuntutan guna pemenuhan hak aksesibilitas peribadatan bagi difabel kepada para pemegang kebijakan, baik di tingkat pusat maupun daerah.

Pada tahun ini, kegiatan difokuskan untuk membuat model aksesibilitas tempat peribadatan dan mendorong pemerintah setempat, baik Kanwil Kemenag, Dinas Perijinan, dan Dinas Kebudayaan untuk mengeluarkan kebijakan yang sinergis dalam rangka pemenuhan aksesibilitas peribadatan. Minimal 1 tempat ibadah dari masing-masing agama dan kepercayaan telah siap menjadi model aksesibilitas. Dalam asesmen kebutuhan aksesibilitas di tempat ibadah ini, Dria Manunggal menggandeng CUDD (Center of Universal Design for Dissability) Fakultas Teknik UGM, dan tentu dengan melibatkan komunitas difabel.

Diharapkan tempat-tempat ibadah tersebut ke depannya dapat menjadi rujukan bagi tempat-tempat ibadah yang lain. Dalam rangka penyebaran informasI kepada masyarakat yang lebih luas tentang hak aksesibilitas peribadatan ini, Dria Manunggal mengembangkan sebuah website yang telah dapat diakses sejak pertengahan bulan Juli yang lalu.

Website yang dapat diakses dengan link www.driamanunggal.org dan www.driamanunggal.or.id ini menjadi penyampai informasi tentang kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh Dria Manunggal dalam program ini, maupun tentang isu difabilitas pada umumnya. Website ini diharapkan dapat menjadi web partisipatoris, yang memberikan kesempatan kepada semua kalangan dari komunitas lintas agama dan kepercayaan untuk memberikan kontribusi baik tulisan maupun foto/gambar yang bersifat informatif tentang aksesibilitas peribadatan maupun permasalahan difabilitas yang lain.

Bertempat di kantor Dria Manunggal, Jl. Wates km. 2,5 Gang Lurik Kingkin No. 1 RT. 8 Nitipuran Yogyakarta, website ini diluncurkan pada hari Jumat (5/8) yang dihadiri oleh komunitas dari lintas agama dan kepercayaan, serta dari media lokal.

“Meski telah ada berbagai peraturan perundang-undangan yang di dalamnya mengaturpenghormatan terhadap hak memeluk dan melaksanakan peribadatan agama/keyakinan, namun realitanya masih juga terjadi pembiaran terhadap pelanggaran atas penghormatan, perlindungan dan pemenuhan hak atas pemelukan agama/keyakinan berikut pelaksanaan peribadatannya sebagimana telah diuraikan di atas,” demikian pernyataan dari Direktur Dria Manunggal Setia Adi Purwanta.

“Tempat ibadah yang tidak aksesibel bagi mereka yang mengalami hambatan mobilitas, memahami kitab suci dan ajaran dari penyampaian kutbah bagi mereka yang memiliki hambatan komunikasi, memimpin peribadatan bagi yang mengalami hambatan komunikasi, dan masih banyak lagi bentuk tindakan diskriminatif lainnya yang merupakan fakta atas terjadinya proses diskriminatif dalam kehidupan beragama/berkeyakinan,” demikian tambahnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *