Dria Manunggal Gandeng CUDD UGM Wujudkan Aksesibilitas Peribadatan

Dria Manunggal kerja cepat untuk mewujudkan aksesibilitas peribadatan di Yogyakarta. Kamis, (28/7) lalu Tim Difabel di Mata Tuhan merencanakan tindak lanjut hasil kerjasama dengan beberapa rumah ibadah di Yogyakarta yang siap menjadi model aksesibilitas peribadatan. Kali ini Dria Manunngal menggandeng Center for Universal Design and Diffabilities (CUDD) Universitas Gajah Mada untuk membuat sketsa rumah ibadah yang aksesibel untuk difabel.

Perencaan tindak lanjut itu bertempat di Kantor CUDD UGM, Yogyakarta. Pertemuan itu dihadiri oleh Setya Adi, Ninik, Wulan, dan Nirla selaku Tim Difabel di Mata Tuhan sedangkan dari pihak CUDD UGM Ika Putra, Dimas, dan Bimo.

IMG_20160728_141651

Menurut Ninik, selaku Koordinator Tim Difabel di Mata Tuhan mengakatakan, “CUDD dan Dria Manunggal akan segera melanjutkan langkah, yaitu survey aksesibilitas ke beberapa tempat ibadah yang sudah siap menjadi model aksesibilitas peribadatan.”

Saat dikonfirmasi lebih lanjut, Tim survey terbagi menjadi dua yaitu tim pendamping difabel yaitu Dria Manunggal dan tim pembuat sketsa fasilitas fisik rumah peribadatan yaitu CUDD.  aksesibel. “Kami akan melibatkan teman-teman difabel rungu wicara, difabel netra, dan difabel daksa baik yang menggunakan kursi roda maupun kruk,” ujar Ninik.

Difabel yang tergabung dalam tim survey ini akan mencoba aksesibilitas rumah ibadah secara langsung. “Teman-teman (difabel) nanti akan mencoba langsung cara masuk ke area peribadatan hingga sampai ke ruang peribadatan, toilet, nah itu nanti termasuk ukuran toilet dan pintunya,” jelas Ninik. Survey aksesibilitas ini akan menyasar Gereja Kristen, Gereja Katholik, Masjid, Pura, dan Vihara, lanjutnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *