Pura Jagatnatha siap jadi Model Peribadatan Aksesibel

Tim Difabel di Mata Tuhan dan Pengurus Pura Jagatnatha sedang diskusi
Tim Difabel di Mata Tuhan dan Pengurus Pura Jagatnatha sedang diskusi

Tim Difabel di Mata Tuhan, Dira manunggal melakukan assesment awal di Pura Jaganatha Jumat  (1/7) lalu. Kegiatan ini dihadiri oleh Tri Suharjo, I gusti Wirsa, Mujirah, Bendi , I Gede S, dan I Nyoman S, sebagai perwakilan pengurus Pura Jagatnatha.  Pihak Dria Manunggal diwakili oleh Setya Adi, Ninik, dan Nirla.

Pertemuan ini merupakan tindak lanjut dari pertemuan koordinasi pemuda dan difabel lintas iman yang diadakan oleh Dria Manunggal Selasa (31/5) lalu. Adapun hal yang dibahas pada pertemuan ini fokus pada assesment fasilitas peribadatan melalui diskusi bersama.

I Nyoman S, selaku seksi acara Pura Jagatnatha menuturkan, Pura Jaganatha menyambut baik ajakan Dria Manunggal untuk menjadi model peribadatan aksesibel untuk difabel. Namun, untuk lebih jelasnya, ia ingin tetap ada kerja sama antara Dria Manunggal  sebagai lembaga yang lebih mengerti tentang disabilitas. Sedangkan pengurus Pura akan menjalankan assesment terhadap umat Hindu dan fasilitas peribadatan.

Setya Adi menanggapi pernyataan I Nyoman S tentang gambaran aksesibilitas peribadatan,“saat ini tidak ada Umat Hindu difabel yang beribadat di Pura, hal ini mungkin tidak ada atau tidak datang ke Pura karena kesulitan untuk mengakses. Misalnya, karena pura yang berundak-undak, tidak adanya informasi dari pengalih bahasa isyarat kepada difabel tuli saat proses peribadatan.  Atau tidak adanya rampa untuk pengguna kursi roda.”

Kegiatan Assesment ini berlangsung dengan luwes dan santai. Kedua belah pihak saling konfirmasi terkait strategi yang akan ditempuh untuk mewujudkan aksesibilitas peribadatan Pura.  Adapun strategi yang akan ditempuh oleh pihak Pura antara lain diskusi bersama tentang klasisfikasi difabel untuk memperoleh kesepahaman antar umat dan melakukan pendataan umat Hindu yang difabel.

I Gusti Wira, selaku pengurus perlengkapan  Pura, “diskusi kesepahaman tentang klasifikasi difabel ini perlu agar pelaksanaan pembangunan aksesibilitas ini mendapat dukungan dari segala pihak dan lebih tepat sasaran,” pungkasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *