Masjid Baitul Makmur siap mengembangkan Aksesibilitas Peribadatan

Masjid Baitul Makmur, Bantul Foto: Tim Difabel di Mata Tuhan
Masjid Baitul Makmur, Bantul
Foto: Tim Difabel di Mata Tuhan

Selasa (21/6) lalu, Tim difabel di Mata Tuhan Dria Manunggal bersilaturahmi ke Masjid Baitul Makmur, Bantul. Silaturahmi ini bertujuan untuk menindaklanjuti pertemuan koordinasi pemuda dan difabel lintas iman yang diadakan oleh Dria Manunggal Selasa (31/5) lalu.

Masjid Baitul Makmur telah memiliki tempat wudhu yang aksesibel untuk pengguna kursi roda. “Fasilitas tempat wudhu dan kamar mandi berada di serambi masjid lengkap dengan pegangan besi dan akses untuk kursi roda, hal ini bertujuan agar difabel bisa lebih dulu bersuci sebelum masuk ke masjid,” tutur Aris Riyanto selaku ketua takmir Masjid Baitul Makmur.

“Saat ini, Masjid Baitul Makmur masih dalam proses pembangunan dan siap untuk merenovasi. Namun kami membutuhkan contoh desain agar mudah dalam pengerjaannya untuk difabel,” tambah Joko Suryanto selaku takmir Masjid Baitul Makmur.

Joko Suryanto menambahkan bahwa pengalih bahasa isyarat belum ada dan ia juga berharap jika ada lembaga yang dapat membantu menjadi pengalih bahasa maka percepatan aksesibilitas dapat terjadi. Karena pemuda dan pemudi di sekitar masjid sudah memiliki kesibukan dan bekerja. Ia juga ingin melihat masjid yang sudah aksesibel untuk difabel di Jogja.

Setya Adi Direktur Utama Dria manunggal menanggapi bahwa, Masjid yang dapat dijadikan model adalah masjid yang berada di Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, Yogyakarta. Namun, masjid tersebut juga masih dalam tahap penyempurnaan.

Kesempatan malam itu, mencapai kesepakatan bahwa, pengurus Masjid Baitul Makmur siap bekerja sama untuk mewujudkan aksesibilitas untuk difabel. Mereka juga akan menyiapkan kursi roda diakhir tahun 2016 sebanyak 2 buah dengan cara mencari dukungan dari CSR dan penyediaan kursi untuk orang tua yang mengalami kesulitan duduk, ungkap Bambang Nur Sasongko.

Setelah pertemuan malam itu, rencana tindak lanjut adalah meninjau masjid UIN Sunan Kalijaga , membuat replika dan desain, hingga mewujudkan masjid sebagai pilot project bersama kemenag sebagai tempat ibadah yang aksesibel untuk difabel.

Setya Adi menambahkan, bahwa untuk mencapai tujuan bersama ini, Dira manunggal bekerja sama dengan Masjid Jogokaryan dan Arsitek dari Center for Universal Design and Diffabilities (CUDD) UGM akan membantu pada tahap perancangan desain aksesibilitas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *